#madrinadiary 15.09-19.09.14

Senin, 15 September 2014

Pagi-pagi ketika gue lagi persiapan mau kerja gue tersandung masalah yang sangat serius. Dan masalah ini tidak bisa ditutupi ke manapun gue pergi.

madrinafat

Dan gue merasa jalan setiap hari berangkat-pulang bisa sampe 5 kilo itu sia-sia. Hanya menang pegel aja betis. Oh iya, betis gue kenceng sih. Kenceng banget -_-“. Timbulan-timbulan dahsyat membuat gue bingung dengan koleksi pakaian yang selama ini ada di dalam lemari. Mendadak teman gue Ririh ngasih saran untuk FREELETICS. Olah raga tanpa alat bantu, kayaknya bagus juga buat orang sesederhana gue. Tidak perlu keluar biaya buat nge-gym atau harus beli alat olah raga lain. Ya paling enggak gue butuh matras. Kalau lagi burpee telapak tangan suka kesakitan kalau setelah mendaratkan telapak tangan ke karpet.

Belum apa-apa gue udah sok nantangin Ririh siapa yang berat badannya turun lebih banyak duluan. Padahal Ririh itu sudah freeletics duluan. Sok banget kan. Minta disiksa banget gue kan.. Pulang kerja gue langsung melakukan misi penurunan berat badan. Kendalanya ya cuma kurang matras aja.

Ah cukup 3 ronde aphrodite dulu untuk hari ini. Tangan gue bisa berdarah kalau diterusin.

hand

 

Rabu, 17 September 2014

Freeletics baru berjalan tiga hari badan kok rasanya agak meriang-panas-dingin-menggigil gini. Saat mau pulang kerja, niatnya sudah mau beneran pulang, tapi setelah melihat keadaan jalanan Jakarta kok Masya Alloh macetnya. Mundur teratur. Mundur terus, terus, sampai terduduk di kursi food court. Mendadak laper juga. Lebih baik gue beli makanan dulu daripada gue mati kelaparan tiba-tiba kan lucu. Ya sudah, cari makanan yang sehat. Pilihan gue jatuh ke shabu shabu udang. Sehat kok. Nasinya tidak gue makan. Sedapnya udang.. Segarnya kuah dan sayuran shabu shabu menghangatkan tubuh gue yang masih butuh asupan makanan hangat karena meriang-panas-dingin-menggigil.

shabu shabu kelas tanggal tua

Saking gue menikmati shabu shabu, tanpa sadar gue makan sampai 40 menitan lebih. Makannya pelan-pelan. Diresapi. Dikunyah 80 kali tiap suapan. Keluar gedung jalanan sudah kosong dan gelap. Bagus deh, gue bisa jalan kaki dengan tenang dan pelan.

 

Jumat, 19 September 2014

Minggu ini jalanan sore macetnya luar biasa. Saking luar biasanya, para pengendara motor bandel pada naik trotoar mengganggu perjalanan gue. Gue berusaha semaksimal mungkin untuk menghalangi jalan mereka agar mereka kesal dan kembali ke jalan yang benar. Tapi apa yang terjadi sesungguhnya? Mereka menyerobot gue dengan paksa. Kasarnya mereka NYEREMPET gue! Oh gue tidak biasa diam saja diperlakukan kasar begini. Gue pun berbersumpah serapah sambil melototin spion berdebu mereka.

street 1

Gue yakin nih, orang-orang yang seenak jidat melanggar peraturan pasti bikin SIMnya nembak. Kok gue tau? Karena sebagian mereka adalah manusia berjenis TIDAK AKAN PERNAH menghargai peraturan berlaku. Kecuali ada polisi. Itu aja kadang kalau polisinya meleng dikit mereka langsung beraksi.

Setelah sampai di lampu merah Cengkareng, ada lagi kelakuan pengendara mengganggu. Berhenti tepat di atas zebra cross. DAN di situ ada polisi. Gue sih yakin aja kalau pak polisi ini khilaf kalau di Jakarta juga ada pejalan kaki. Dan tanpa pikir panjang gue menghampiri pak polisi dan memberi tahu kalau banyak pejalan kaki yang juga mau nyebrang. Dan reaksi pak polisi juga sepertinya memang khilaf. Baru sadar karena terlalu sibuk mengatur kendaraan yang semerawut. Astaghfirulloohaladziim.. Hari Jumat rek.

©m

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: